Punya blog atau web, daftar dengan klik dibawah ini untuk tambahan duit

Monday, April 23, 2007

Kaum Muda dan Geliat Pembaharuan

Oleh: Syaparuddin, J. S.Sos*)

Kalau kita mau jujur, bahwa ketika negeri ini berada dibawah kendali kepemimpinan otoriter, sentralistik dan hegemonik, maka fakta menunjukkan bahwa hampir seluruh potensi bangsa berada dalam kondisi yang tak berdaya. Ketika itu semangat penyeragaman (uniformitas) alias tidak boleh berbeda pendapat merupakan watak otoriterianistik, seluruh potensi daerah, kebijakan birokrasi, dan politik selalu tercentralisasi ke pusat kekuasaan. Negara selalu tampil dengan wajah yang menakutkan, menekan, dan mendominasi wilayah-wilayah sipil sehingga rakyat selalu berada dalam tekanan-tekanan psikologis yang tak berdaya.

Tujuh tahun negeri ini sudah berganti kepemimpinan nasional, secara pelan namun pasti, berganti pula berbagai kebijakan negara, peran militer mulai dikembalikan pada khittahnya, watak kepemimpinan mulai bergeser dari otoriterian ke demokratisasi, ada disbusi kekuasaan, peran yudikatif mulai diraskan, legislatif mulai berubah tampilannya, ada otonomi daerah, ada pula pemilihan langsung Presiden-Wakil Presiden, Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, intinya rakyat mulai berdaulat. Inilah tanda-tanda telah terjadinya perubahan.

Kaum muda, yang dikatakan sebagai agen pembaharuan (agen of change), hendaknya terus memposisikan dirinya sebagai pelopor pembaharuan yang berada di garda terdepan dalam mengawal dan mendorong terjadinya perubahan kearah yang lebih baik. Tanpa pengawalan yang ketat transisi ini dapat membahayakan masa depan. Artinya kaum muda hendaknya tetap kritis dalam membaca realitas, namun hendaknya tetap pula memelihara asfek obyektifitas, bersikap santun dalam mengemukakan pikiran, sikap dan tindakannya.

Sedangkan peran organisasi kepemudaan terhadap komunitasnya yang merupakan pewaris masa depan bangsa, haruslah lebih diarahkan pada upaya penyadaran (transfromasi) akan tanggung-jawabnya. Betapapun, masa depan merupakan tanggung-jawab bersama oleh seluruh potensi muda, artinya generasi muda sejak dini, harus pula sadar bahwa masa depan sangat bergantung dengan kesiapan pemudanya hari ini untuk menatap masa depan yang lebih baik.

Memandang penuh dengan kecurigaan yang berlebihan terhadap generasi tua (penguasa saat ini) tentu bukanlah pula sikap yang arif dan bijaksana, sebab terlepas dari kelemahan dan carut marutnya kekuasaan oleh mereka yang telah berkuasa, tetap saja mereka telah berjasa dan memiliki andil yang tidak kecil buat negeri ini. Oleh karenanya kita tetap “belajar” dari mereka, menghormati dan menghargai apa yang telah mereka persembahkan, sikap ini merupakan cerminan dari akhlak Islam yakni hormat “tawaddu kepada para tokoh-tokoh kita saat ini. Menghargai karya para pendahulu baik sebagai modal (asset-historis) maupun sebagai pelajaran, tentulah merupakan sikap terbaik kaum muda sambil juga mencoba memeperisapkan berbagai agenda perubahan masa depan. Sikap ini seiring dengan kaidah fiqh yang terkenal di lingkungan NU yakni : Al Muha Fadzatu Ala Qodimussoleh, Wal Ahdzu Bil Jadidil Ashlah artinya “ Mempertahankan nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang harus relevan “ dari sinilah kita berangkat bagaimana kaum muda memandang masa lalu, berinteraksi dengan realitas saat ini, dan menatap masa depan yang lebih baik.

Bahwa masa depan harus lebih baik dari masa lalu dan masa kini, tentu merupakan kehendak semua generasi, sebagai kaum muda prinsip ini hendaknya kita jadikan sebagai sumber insfirasi, motivasi, dan obsesi, yang kemudian dituangkan dan diformulasi dalam bentuk susunan-susunan program masa depan yang termanifestasikan dalam komitmen dan gerakan yang lebih terkoordinasi, implementatif, dan membumi.

Kepada kita sebagai kaum muda bahwa masa depan yang kita kehendaki antara lain ; terbangunnya suasana kehidupan yang lebih harmonis, tegaknya hukum, sejahteranya rakyat, meningkatnya kualitas SDM, sehatnya kehidupan masyarakat, dihargainya kedaulatan rakyat, ending akhirnya adalah terbangunnya sebuah kehidupan masyarakat baru yang berperadaban (Mabadi Khoiru Ummah). Untuk itulah kaum muda harus mempersiapkan diri sedini mungkin, saling berkoordinasi dan mengkonsolidasi kekuatannya, agar masa depan dapat diraih dengan pendekatan-pendakatan yang lebih santun dan beradab. Pandangan ini relevan dengan ; Innallah Hala Yughoiru Ma Biqaumin Hatta Yughoiru Ma Bi Ampusihim “ Tidak akan dirubah nasib suatu kaum kalo tidak kaum itu sendiri melakukan perubahan “. an (social of engientuk ng masa lalu dan menatapa masa kini "

(Penulis adalah Ketua PW GP Ansor Kalimantan Timur)

No comments: